Skip to main content

#ProtectAgainstFakes: Karena produk palsu dapat menyebabkan kerusakan nyata

Read this article in English or Vietnamese

Pemalsuan adalah masalah global yang menyebabkan kerusakan ekonomi yang besar setiap tahun. Produk palsu dibuat agar mirip dengan merek asli untuk menipu konsumen, tetapi hampir selalu memiliki kualitas yang lebih rendah dan gagal memenuhi standar keamanan yang disyaratkan dari produk asli. Sebagian konsumen membeli produk ini tanpa sadar, sementara sebagian lainnya membeli dengan sengaja.

Sebagian besar pembicaraan tentang produk palsu biasanya berfokus terutama pada dampak ekonomi dan ini memang cukup besar. Di Uni Eropa (UE), impor barang palsu dan bajakan pada tahun 2019 bernilai EUR 119 miliar, merepresentasikan 5,8% dari semua barang yang masuk ke UE. Selain itu, ada kecenderungan yang berkembang di kalangan anak muda Eropa untuk membeli barang palsu. Menurut sebuah studi oleh European Observatory on Infringements of Intellectual Property Rights (Observasi Eropa terhadap Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual), 37% orang Eropa berusia 15 hingga 24 tahun yang disurvei pada Februari 2022 melaporkan telah membeli satu atau beberapa produk palsu dengan sengaja dalam 12 bulan sebelumnya.

Di negara-negara ASEAN, perdagangan produk palsu juga meningkat, merampas miliaran dolar dari ekonomi mereka. Tidak termasuk obat-obatan, yang merupakan pasar yang sangat besar, pasar barang palsu di Asia Tenggara berkisar antara USD 33,8 – USD 35,9 miliar per tahun (UNODC, 2019, ‘Kejahatan Terorganisir Transnasional di Asia Tenggara: Evolusi, Pertumbuhan, dan Dampak’).

Tapi terdapat lebih banyak pemalsuan daripada angka ekonomi yang menggambarkannya. Konsumen mungkin berpikir bahwa mereka telah menghemat uang saat membeli barang palsu dan bahwa kerugian ekonomi bagi individu dan perusahaan ini bukan urusan mereka. Namun, yang mungkin tidak mereka sadari adalah bahwa ada biaya lain yang berdampak terhadap diri mereka sendiri. Sementara argumen moral untuk melindungi tenaga kerja dan kekayaan intelektual individu masih berlaku, konsumen harus mengerti mengenai pertimbangan lain jika mereka berpikir untuk membeli barang palsu.

 

Apakah kita perlu peduli tentang pemalsuan?

Jawabannya iya. Tentu saja. Terlepas dari kerugian finansial, produk palsu seringkali menimbulkan risiko – besar atau kecil – terhadap kesehatan, keselamatan, dan lingkungan.

Kita sering mendengar berita tentang orang yang mengalami masalah kesehatan setelah menggunakan produk palsu atau di bawah standar seperti obat-obatan, bahan makanan, dan kosmetik. Terdapat masalah keamanan utama dengan alat pelindung palsu dan bahkan mainan, produk yang seharusnya seaman mungkin untuk digunakan. Selain itu, terdapat risiko terhadap lingkungan dalam pembuatan, penggunaan, dan pembuangan barang palsu yang dibuat dengan bahan kimia dan logam berat. Pada akhirnya, konsumenlah yang terkena dampak langsung dari bahaya yang mengintai dari barang palsu.

Tidak seperti produk merek dan perusahaan resmi, yang harus memenuhi standar keamanan agar dapat menjual barangnya dan dipercaya oleh pelanggannya, pemalsu tidak peduli dengan masalah keamanan karena tidak ada insentif bagi mereka untuk melakukannya. Sementara itu, pemilik merek dan produsen harus mengalami ‘penghancuran reputasi merek’ dan ‘pengikisan nama perusahaan’. Menggunakan produk palsu tidak hanya merugikan kita secara pribadi. Itu merugikan orang – pemilik dan karyawan – yang hanya ingin mencari nafkah. Jika kita pernah menjadi korban dari perlakuan tidak adil semacam ini, kita akan mengerti betapa hal ini menimbulkan derita moral.

Yang lebih buruk lagi, kita juga bisa mendanai kejahatan terorganisir transnasional. Perdagangan gelap adalah salah satu cara dimana penjahat dapat mencuci uang. Produksi barang palsu seringkali melibatkan eksploitasi tenaga kerja, pemaksaan, dan korupsi dalam berbagai jenis. Semua masalah ini berarti bahwa masyarakat secara keseluruhan membayar harga yang tinggi.

 

Apakah kita mengetahui risiko terkait produk palsu?

Tidak semua barang palsu diciptakan sama. Beberapa lebih berbahaya daripada yang lain. Efek negatif dapat berkisar dari ketidaknyamanan ringan hingga situasi yang mengancam jiwa.

Risiko produk palsu dapat berasal dari proses produksi dan kesalahan penanganan selanjutnya serta mencakup masalah seperti penggunaan bahan berbahaya atau terlarang, kontaminasi bakteri, sistem pengawetan yang tidak memadai atau tidak ada sama sekali, alergen tingkat tinggi atau tidak diungkapkan, kadar bahan aktif yang hilang atau berkurang, dan ketidakpatuhan terhadap standar keselamatan.

Pada tahun 2019, Kantor Kekayaan Intelektual Uni Eropa (EUIPO) melakukan studi tentang produk tidak aman yang teridentifikasi dalam Sistem Peringatan Cepat UE untuk Produk Berbahaya selama periode 2010-2017. Temuan menunjukkan bahwa sekitar 97% barang berbahaya yang tercatat dinilai menimbulkan risiko serius.

Tak terbantahkan bahwa versi palsu dari beberapa produk umumnya berbahaya untuk digunakan. Ini termasuk obat-obatan, pestisida, alkohol, wewangian dan kosmetik. Sebagai contoh, obat palsu yang tidak mengandung bahan aktif memperpanjang penyakit dan dapat menyebabkan masalah kesehatan lainnya, sedangkan penggunaan metanol dengan harga lebih rendah dalam minuman beralkohol sebagai pengganti etanol dengan pajak tinggi dapat mematikan.

Sementara itu, ada kategori produk palsu berbahaya lainnya yang mungkin tidak kita sadari, termasuk mainan dan peralatan rekreasi, pakaian dan tekstil, suku cadang otomotif, dan alat pelindung diri.

Boneka palsu dari produsen populer dilaporkan mengandung ftalat, bahan kimia berbahaya. Papan hover palsu telah dilaporkan terlalu panas dan menyebabkan kebakaran, mengakibatkan tragedi besar. Beberapa bahan tekstil dibuat dengan pewarna beracun yang dapat menyebabkan ruam dan kanker kulit. Respirator N95 palsu gagal menyaring 95% material di udara. Dan masih banyak lagi kasus produk palsu yang menyebabkan kerugian nyata.

 

Apa yang dapat kita lakukan sebagai konsumen untuk melindungi diri dari pemalsuan?

Aturan nomor satu adalah membeli produk dari produsen atau pemasok terkemuka. Pasar, terutama pasar daring, bisa menjadi tempat yang menakutkan di mana kita mungkin tidak selalu tahu siapa yang harus dipercaya. Jadi membeli dari pemasok yang memiliki reputasi baik dapat melindungi kita dari produk palsu sampai batas tertentu.

Hal-hal lain yang harus diwaspadai atau tindakan sederhana yang harus diambil termasuk mewaspadai harga yang sangat rendah, memeriksa situs web resmi suatu produk untuk melihat gambarnya dan memeriksa deskripsinya, dan memeriksa produk dan kemasannya dengan cermat. Barang yang melanggar sering kali memiliki kemasan yang meragukan dan menampilkan logo dan merek dagang yang direproduksi dengan buruk atau adanya kesalahan eja.

Penting juga untuk memeriksa apakah suatu produk memiliki standar keamanan yang disyaratkan, misalnya penandaan CE atau label dari otoritas makanan dan obat nasional atau internasional. Kita tentu harus sadar bahwa label ini bisa dipalsukan. Jika ingin lebih pasti, kita bisa mencari label keamanannya di pangkalan data otoritas makanan dan obat nasional atau internasional.

Sebagai konsumen, kita juga harus mengedukasi diri sendiri tentang kekayaan intelektual secara umum dan masalah pemalsuan khususnya, sehingga kita dapat membuat keputusan yang tepat saat membeli suatu produk. Jika kita memahami berbagai efek negatif yang ditimbulkan oleh barang palsu terhadap kesehatan dan keselamatan kita, lingkungan, ekonomi, dan masyarakat, kita akan lebih bersedia untuk menegakkan dan mempromosikan hak kekayaan intelektual dan mendukung produsen produk asli.

Share this post